Image Image Image Image Image Image Image Image Image Image
Scroll to top

Top

No Comments

NOR house, Hunian Minimalis Inspiratif Pada Lahan Terbatas yang Terinspirasi dari Tradisi Islam

NOR house, Hunian Minimalis Inspiratif Pada Lahan Terbatas yang Terinspirasi dari Tradisi Islam

Urbanloka.com – NOR House mengatasi kendala hunian didalam jalan sempit. Menuju Nor House akses yang bisa digunakan adalah garasi dari sebuah kediaman yang berlokasi di Jalan Pahlawan Nomor 32, Kota Bandung.

Hunian dengan luas hanya sekitar 800 meter persegi berbentuk L ini merupakan sebuah rumah keluarga. Di luar negeri, konsep hunian semacam ini dikenal dengan nama cohousing.

Ide dari konsep cohousing adalah mengembangkan perumahan dengan cara mengumpulkan orang-orang yang berminat di satu lokasi yang kemudian membangunnya secara bersama-sama. Proses perencanaan pun dapat dilakukan dengan proses musyawarah di antara calon penghuni tersebut.

Ketika pasangan suami istri Ovian Aginta dan Sisca Triana mendapatkan lahan seluas 137 meter persegi yang terletak di sisi paling ujung, mereka mengakalinya dengan tidak membangun seluruh lahan. Darisanalah  muncul ide untuk membangun hunian berkonsep unik Nor House.

”Idenya bermula dari kendala masyarakat permukiman padat yang jarang memilik akses cahaya dan udara yang optimal. Karenanya kami ingin mematahkan anggapan tersebut,” ungkap salah seorang anggota tim desain Nor House, Yanuar Pratama Firdaus, ketika ditemui di Nor House, beberapa waktu lalu.

Yanuar mendesain hunian tersebut bersama beberapa arsitek lain dan Aaksen Studio. Ungkap ”Nor” yang sebenarnya merupakan penggalan dari nama kedua anak Ovian dan Sisca, yaitu Adara Kaila Eleanor dan Sophia Cyrilla Eleonora. Kata itu juga terilhami dari kata ”Nur” yang dalam bahasa Arab berarti cahaya.

Pada Nor House, cahaya matahari memang menjadi elemen yang dipikirkan. Meskipun letaknya berada di pojok, hunian tersebut harus mendapatkan cahaya matahari dengan cukup. Maka, diputuskan arah rumah menghadap ke timur.

Di balik pintu tersebut, terdapat ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan, yang dilengkapi dapur. Di sam­ping ruang tamu, barulah terdapat pintu masuk utama yang terhubung langsung dengan teras dan halaman.

Nor House membawa konsep arsitektur tropis kontemporer dengan atap besi sebagai fasad dan atap. Nuansa putih dipilih agar hunian terlihat rapi dan dapat memantulkan panas. Selain itu, untuk membuat hunian ini tampak mencolok. Dari udara, Nor House terlihat menonjol jika dibandingkan dengan hunian lain di daerah padat penduduk tersebut.

Di bagian luar, atap sekaligus dinding bermaterial zincalum galvalume terlihat dominan. Tim kontraktor Nor House, Agusti Salman Farizi mengatakan bahwa material tersebut dipilih untuk menampilkan kesan modular.

”Mengapa tidak menggunakan genting? Karena genting cepat berlumut. Sementara itu, material ini terlihat modern, dan mudah dibersihkan,”

Oleh tim arsitek, Nor House memang dimaksudkan sebagai rumah dengan penghawaan dan pencahayaan yang baik. Di beberapa bagian, zincalum galvalum juga dilapisi dengan bubble foil untuk meredam udara panas yang terkurung di dalam rumah.

Berdiri di atas lahan seluas 137 meter persegi, Nor House memiliki luas bangunan 115 meter persegi. Hunian tersebut terdiri atas dua lantai. Lantai pertama memiliki luas area sebesar 72 meter persegi, yang mencakup ruang keluarga, ruang makan, dapur, toilet, musala, ruang jemur, dan taman. Lantai kedua memiliki luas area 43 meter persegi, yang mencakup kamar tidur utama, kamar tidur anak, dan toilet.

”Akses masuk menuju rumah yang sulit, membuat semua furnitur yang digunakan juga harus custom,” kata Yanuar. Misalnya, seperti yang ada di dapur dan kamar tidur utama.

Selain kesulitan mengangkut furnitur, tantangan yang juga dialami adalah kesulitan mengangkut material ketika proses pembangunan. Hal itu disebabkan untuk mencapai lokasi pembangunan, akses yang harus dilewati adalah gang sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Bagian paling unik dari hunian ini adalah keberadaan musala yang letaknya di bagian depan rumah. Ukurannya relatif kecil, namun di dinding atas terdapat bukaan asimetris yang memungkinkan cahaya masuk dan dipantulkan lagi ke dalam rumah.

Di bagian teras, juga terdapat bukaan atap yang memungkinkan untuk meletakkan sebuah pohon tinggi. Pohon yang dipilih adalah pohon pakis Brazil, yang sering disebut parahyba. Menurut Yanuar, pohon ini dipilih karena memiliki batang lurus. Cabang-cabangnya bisa dipangkas, dan banyak menyembul di bagian atas.

”Karena konsep yang dibuat adalah tropical modern, keberadaan pohon ini juga sangat penting sebagai narasi arsitektur yang diciptakan,” ujarnya.

Sumber: dari berbagai sumber

Submit a Comment