Image Image Image Image Image Image Image Image Image Image
Scroll to top

Top

No Comments

Hunian dengan Konsep Industrial Religius ala Andyrahman Architect

Hunian dengan Konsep Industrial Religius ala Andyrahman Architect

Urbanloka.com – Jika kita melihat sejauh mana perkembangan arsitektur dewasa ini, kebanyakan dari mereka telah ‘melupakan’ prinsip dasar arsitektur, orang semakin jauh dari dimensi spiritual, ketidakharmonisan dengan alam, dan jauh dari kesadaran urban. Karena itu, Andy Rahman memutuskan untuk merancang rumah ini dengan prinsip Back to Basics. Dasar-dasar dalam konteks ini mencakup dasar-dasar spiritualitas, material, dan urbanitas.

Kembali ke dasar spiritualitas, rencananya rumah dimulai dengan disain ruang shalat (mushola) sebagai tempat beribadah penghuninya. Dalam Islam, umat Islam harus berdoa menghadap kiblat. Dan kiblat sendiri berada di barat laut Surabaya. Inilah alasan mengapa tata letak ruangan shalat agak miring dari garis depan hunian.

Tata letak siku yang unik ini menjadi ide desain. Demikian akhirnya hunian dipilih dengan bentuk kubus yang telah dipotong secara diagonal. Bentuk diagonal ini diuraikan secara hostikal ke daerah luar, seperti teras, carport, dan pagar.

Kembali ke dasar-dasar bahan, bangunan didesain dengan sentuhan yang belum selesai, seperti plester yang tidak dicat, cat semen dan gulungan (dengan warna semen asli) untuk memudahkan pemiliknya mempertahankan bangunan. Dengan demikian, hunian juga tidak memerlukan perawatan biaya tinggi, dengan penerapan prinsip: low budget low maintenance.

Selain itu, ia juga kembali ke prinsip dasar daur ulang dengan mengadopsi banyak bahan daur ulang seperti peti kayu bekas. Banyak digunakan sebagai pelengkap furnitur, mulai dari ruang tamu yang merupakan area umum hingga kamar tidur yang lebih privat.

Dengan urbanitas, yang berawal dari fenomena bahwa kebanyakan rumah di kota besar (termasuk Surabaya) umumnya menggunakan semua lahannya untuk bangunan. Sebaliknya, rumah ini ingin memberi ruang untuk bernafas, hanya dengan menggunakan 40% tanah untuk bangunan dan 60% sisanya didedikasikan sebagai salah satu ruang terbuka kota di lingkungan sekitar.

Meski rumah memiliki bentuk monolit, namun tetap mengadopsi unsur tropis seperti bukaan lebar di sisi bangunan. Jadi, meski penggunaan beton memang sangat dominan, namun hunian tetap dirancang sebagai bangunan yang sadar akan lingkungan dan iklimnya.

Rumah juga dilengkapi dengan penerangan yang bagus dan sirkulasi udara yang baik. Hal ini juga untuk mengaktualisasikan gagasan besar kota hijau, sehingga kota kita lebih manusiawi untuk dihuni tanpa kehilangan unsur spiritualitas, materialitas dan urbanitasnya. Ketiga prinsip dasar ini menjadi titik awal konseptual yang kuat dalam desain rumah ini.

Dari rumah ini, kita bisa belajar bagaimana arsitektur dapat berdamai dengan Tuhan, kodrat dan kotanya, dan hal ini menjadikan arsitektur ymemiliki nilai yang lebih dalam dan berarti. Berikut dibawah ini interior hunian dari berbagai sudut Urbaners.

 

Sumber: dari berbagai sumber

Submit a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.